Jika Anda pernah terciprat minyak panas saat menggoreng, Anda pasti refleks menghindar atau langsung mengguyurnya dengan air mengalir. Tapi pernahkah Anda membayangkan lima (5) liter minyak panas mengguyur tubuh Anda? Itulah yang dialami oleh Pak Maulana Yusuf, mantan koki pada suatu restauran ayam. Kejadian nahas tersebut membuatnya lumpuh dan tak berdaya sampai sekarang.

Pria berumur 43 tahun ini bercerita pada Tim Rumah Berkat pada Kamis (15/9) tentang kejadian yang menimpanya satu setengah tahun yang lalu, saat itu Pak Maulana adalah seorang koki tidak tetap yang ditugaskan membantu suatu gerai ayam di daerah Cililitan, Jakarta Timur. Pak Maulana sedang melakukan pekerjaannya yaitu menggoreng ayam dalam jumlah besar pada satu wajan yang berukuran jumbo, tanpa diketahui Pak Maulana ternyata pegangan kayu pada wajan tidak stabil bahkan satu bautnya hilang, sehingga wajan berisi 5 liter minyak goreng panas itu terjatuh ke arah tubuh Pak Maulana, refleks Pak Maulana menyentuh bagian luar wajan yang panas dengan tangan kosong dengan maksud menahan wajan, yang tentu saja membuat kesepuluh jarinya patah juga melepuh.

Pak Maulana sontak tak sadarkan diri dan tidak bisa melawan ketika pertolongan pertama yang diberikan rekan kerjanya adalah membalurkan sabun cuci piring, suatu langkah yang fatal untuk menangani luka bakar derajat tiga. Luka bakar apalagi yang termasuk pada derajat tiga, haruslah langsung ditangani oleh tenaga kesehatan, sangat tidak dibolehkan untuk menggunakan obat rumahan, seperti es, pasta gigi, mentega, telur apalagi sabun cuci piring karena bahan-bahan yang terkandung dalam produk-produk tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi dan memperparah luka bakar.

Akibat dari salahnya penanganan pertama tersebut, luka Pak Maulana menghitam dan kulitnya terkelupas sangat lebar sampai bagian . Klinik yang menerima Pak Maulana hanya dapat memberikan terapi infus, untuk meringankan rasa panas.

Atas kecelakaan yang terjadi saat bekerja, Pak Maulana hanya mendapatkan biaya perawatan dari tempatnya bekerja, sebesar 2x total gajinya, padahal dalam hal jaminan kecelakaan kerja, Indonesia sudah memiliki Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 yang mengatur jaminan sosial tenaga kerja salah satunya adalah jaminan kecelakaan kerja, terlepas status Pak Maulana sebagai karyawan tidak tetap.

Walau menghadapi musibah sekaligus ketidakadilan dari tempatnya bekerja, Pak Maulana dan sang Istri, Tiwuk Wulandari, mengaku ikhlas. “Saya ikhlas dengan kejadian ini, saya ikhlas. Saya kasih tau teman-teman (kerja) pelajaran ini, untuk kalian semua, lihat, periksa dulu semua alat-alat memasak di dapur dan jangan asal taruh aja gitu, akhirnya kan yang tertimpa oranglain” tutur Pak Maulana dengan lirih.

“Kalau oranglain mungkin aja nuntut (ganti rugi) ini itu, tapi kalau saya engga, ini jadi takdir saya, Allah SWT sudah tentukan seperti ini, maka saya terima, menjadi penggugur dosa saya juga” tambah Pak Maulana dengan rendah hati.

Sudah satu setengah tahun lebih sejak kejadian tersebut Pak Maulana tidak dapat beraktivitas seperti semula, kakinya tidak mampu menopang tubuhnya walau sudah dibantu tongkat kruk, punggung dan tulang ekornya juga sering kesakitan karena terlalu sering duduk, belum lagi bagian kaki yang luka bakarnya masih terbuka, untuk sekedar memakai celanapun Pak Maulana harus menahan sakit luar biasa.

Kediaman Pak Maulana dan Bu Tiwuk

Di rumah kontrakan berukuran kecil inilah, Pak Maulana dan Bu Tiwuk tinggal bersama seekor kucing yang diberi nama Mili. Di rumah yang tidak luas ini Pak Maulana menghabiskan banyak waktunya, tidur beralasan kasur lantai dengan bantal lusuh sebagai alas kepala.

Selama satu setengah tahun ini, Pak Maulana melakukan perawatan dirumah dengan minyak zaitun dan perban yang diganti setiap tiga hari sekali, Bu Tiwuk akan mengolesi minyak zaitun pada kulit yang sudah kering setiap pagi dan sore hari. Bu Tiwuk dengan setia menemani dan merawat Pak Maulana penuh kesabaran dan kasih sayang, mulai dari urusan makan, membersihkan badan Pak Maulana, mengurus rumah sampai mencari penghasilan dari pekerjaan serabutan yang dilakukannya.

Bu Tiwuk tidak pernah menyerah dengan keadaan ini, tetap percaya setiap jalan dari Allah adalah jalan yang terbaik, Bu Tiwuk hanya berfokus pada kesembuhan suaminya agar ia dan suami dapat kembali beraktivitas kembali, karena Bu Tiwuk dan Pak Maulana memiliki rencana di masa depan untuk memiliki usaha sendiri.

Rumah Berkat terenyuh dengan kerendahan hati dan kesabaran dari Pak Maulana dan Bu Tiwuk sehingga tergerak untuk memberikan bantuan berupa paket sembako dan sejumlah biaya untuk meringankan beban keduanya. Rumah Berkat yakin Pak Maulana dan Bu Tiwuk dapat melewati masa sulit ini dan mendapatkan apa yang selayaknya didapatkan, dan jika #SobatBerkat sependapat dengan Rumah Berkat, Yuk bantu ringankan beban Pak Maulana dan Bu Tiwuk dengan berdonasi pada halaman Kotak Gana berikut:

https://rumahberkat.com/campaigns/maulana-yusuf-90-badannya-tersiram-minyak-panas

Donasi dari #SobatBerkat akan disalurkan langsung pada Pak Maulana dan Bu Tiwuk, dan laporan implementasi donasi akan diberikan melalui fitur Kabar Terbaru dari Pak Maulana dan Bu Tiwuk sebagai laporan pertanggungjawaban pada donatur. #SobatBerkat dapat berdonasi melalui website tanpa harus melakukan proses pendaftaran akun dengan pilihan metode pembayaran yang beragam, semakin mudah berdonasi bersama Rumah Berkat.

Yuk berbagi pada Pak Maulana dan Bu Tiwuk, agar masa depan yang cerah dapat mereka dapatkan!